Rabu, 08 Mei 2013

Makalah Olahraga ( Kecacatan Pada Anak)





A.  Latar Belakang
Kecacatan pada anak merupakan suatu kondisi yang tidak diinginkan. Pada satu sisi kecacatan bukan sebagai faktor penghambat bagi anak dalam pemenuhan hak-haknya. Namun disisi lain kecacatan pada anak memerlukan penanganan secara khusus, sebab anak dengan kecacatan memiliki hak dalam keberlangsungan dalam hidup, tumbuh kembang, berpartisipasi dan mendapat perlindungan dari perlakuan yang tidak kondusif bagi keberadaan, perkembangan dan masa depannya sebagaimana yang diamanatkan Konvensi Hak Anak.
UU no. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa anak termasuk anak dengan kecacatan mempunyai hak untuk memeperoleh kehidupan yang layak secara fisik , mental, spiritual dan social. Dengan pemahaman tersebut bahwa anak dengan kecacatan diisyaratkan untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan atau aksesibilitas dalam memperoleh hak-hak nya termasuk pelayanannya.
Peningkatan kesejahteraan social anak dengan kecacatan melalui pelayanan dan rehabilitasi social menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan pemerintah. Keluarga merupakan unsur pertama dan utama dalam penanganan anak dengan kecacatan dan dimungkinkan menjadi pelayanan dan rehabilitasi social berbasis keluarga. Ada beberapa pertimbangan mengapa peningkatan pengetahuan, pemahaman dan kepedulian keluarga dalam penanganan anak dengan kecacatan penting dilakukan antara lain :
1.                  Terdapatnya keragaman tingkat pengetahuan, pemahaman ketrampilan keluarga dalam mengasuh anak dengan kecacatan bahkan cenderung dipandang secara negative, seperti masih adanya anggapan sebagai aib bagi keluarga, bahkan beranggapan bahwa anak dengan tanpa harapan.
2.                  Rendahnya pemahaman, pengetahuan, ketrampilan dan kepedulian keluarga terhadap penanganan anak dengan kecacatan.
3.                  Acuan pelayanan Sosial anak yang diperuntukkan bagi anak dengan kecacatan belum memadai.
Survey Sosial Ekonomi Nasional tahun 2003, bahwa persentase anak cacat ( 0 – 18 th ) mencapai 24,45 % dari keseluruhan penyandang cacat yang berjumlah 1,48 juta jiwa.  Anak cacat yang berusia 5 tahun lebih yang tidak / belum pernah sekolah mencapai 44,31 % (kerjasama BPS dan DepSos).
B.     Tujuan
Adapun salah satu tujuan laporan ini ialah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah “Penjas Adaftif”. Dan tujuan utama laporan ini ialah untuk mengetahui tentang kecacatan yang terjadi pada anak.

C.    Masalah
Karena luasnya dalam suatu permasalahan yang dihadapi, dalam laporan ini kami sebagai penulis hanya akan membahas tentang :
a.       Kecacatan Anak
b.      Peran dan Fungsi Keluarga
c.       Reaksi Keluarga Terhadap Keberadaan Anak Dengan Kecacatan
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kecacatan Pada Anak
1.      Penyebab kecacatan pada anak
a.       Cacat bawaan
Kecacatan  biasanya terjadi ketika anak masih dalam kandungan yang disebabkan gangguan penyakit atau metabolism, kelainan kromosommal, gangguan genetic, kekurangan gizi atau sebab lain yang tidak diketahui yang mempengaruhi tumbuh kembang janin.
b.      Cacat setelah lahir
Kecacatan ini biasanya terjadi pada saat proses kelahiran bayi yang disebabkan oleh kesalahan penanganan pada waktu persalinan. Selain itu anak bisa terinfeksi suatu penyakit, virus, kekurangan gizi dan mengalami kecelakaan yang menyebabkan kecacatan.
2.      Jenis-jenis kecacatan pada anak
Mengacu pada Undang-undang no 4 tahun 1977 tentang Penyandang Cacat, berbagai factor penyebab serta permasalahan kecacatan pada anak, maka jenis-jenis kecacatan khas yang dapat terjadi pada anak adalah sbb :
a.       Cacat Fisik ;
·         Cacat Tubuh
·         Cacat Netra
·         Cacat Rungu / wicara
·         Cacat Wicara
·         Cacat Rungu wicara
b.      Cacat Mental
-          Type Klinis :
·         Down Syndrom (mongoloid)
·         Kretin (cebol) karena gangguan hypothyroid.
·         Hydrochepalus (pembesaran kepala).
-          Menurut Gangguan Perkembangan ;
·         Autistic Disordes (gangguan perkembangan) yang kompleks akibat kerusakan sel-sel otak.
·         AD / HD (attention – deficit / hyperactivity disarders)/ gangguan perusakan perhatian dan hyperaktivitas)
·         Psikotik (derajat gangguan mental dan atau psikologis berat pada anak tidak terdeteksi dan tidak di terapi serta direhabilitasi secara dini.
c.       Cacat Fisik dan Mental / Cacat Ganda
Yaitu anak yang mengalami jenis kecacatan fisik sekaligus cacat mental, misalnya anak cacat mental sekaligus mengalami gangguan kecacatan tubuh, cacat netra atau rungu wicara.
B.     Peran dan Fungsi Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang terdiri dari Ayah, Ibu dan keluarga yang merupakan tempat yang penting, dimana anak memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang berhasil di masyarakat. Keluarga sebagai landasan Utama dan pertama bagi anak yang memberikan berbagai macam bentuk dasar sebagai berikut :
-       Di dalam keluarga yang teratur dengan baik dan sejahtera seorang anak termasuk anak dengan kecacatannya akan memperoleh latihan-latihan dalam mengembangkan sikap social yang baik dan kebiasaan berprilaku misalnya ; anak melakukan tugas-tugas tertentu dan mengikuti tatacara keluarganya, belajar disiplin diri dan disiplin waktu agar kelak kebiasaan disiplin sudah terbentuk dan memudahkan anak dalam pergaulan dan hubungannya dengan teman-teman, serta mendukung kelancaran perkembangan daya pikir (kognitif) dan prestasi disekolah.
-       Didalam keluarga dan hubungan-hubungan antar anggota keluarga membentuk pola penyesuaian sebagai dasar bagi hubungan social dan interaksi social yang lebih luas. Anak akan belajar dari latihan-latihan dasar untuk mengembangkan sikap social yang baik, kebiasaan-kebiasaan bertingkah laku yang memudahkan terbentuknya perilaku positif.
Dengan demikian melalui keluarga maka kebutuhan fisik, intelektual, social, emosional dan kebutuhan moral anak termasuk anak dengan kecacatan dapat terpenuhi dengan baik oleh keluarganya serta lingkungannya.

1.      Peran Keluarga
Suatu keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak merupakan keluarga batin / inti. Dalam keluarga besar masih ada pribadi-pribadi lain seperti nenek, kakek, paman dll. Oleh karena suatu hal kehadiran anak dengan kecacatan menyebabkan peran keluarga belum berjalan sebagaimana mestinya. Adapun peran keluarga bagi anak dengan kecacatannya a.l :
a.       Sebagai Pendidik
Keluarga adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya termasuk anak dengan kecacatan.
b.      Sebagai Pelindung
Keluarga melindungi anak dari perlakuan dan situasi yang dapat mengancam keselamatan maupun menimbulkan penderitaannya.
c.       Sebagai pemotivasi (motivator)
Anak yang mempunyai masalah, memerlukan dorongan dan dukungan dari keluarga. Oleh karenanya, keluarga harus mampu memeberikan motivasi, agar anak memiliki semangat yang baik untuk berkembang dan menjadi
d.      Sebagai Pelayan
Dengan kecacatan pada anak memiliki banyak keterbatasan dan kelemahan, oleh karenanya keluarga harus memberikan pelayanan yang baik kepada anak. Pelayanan tersebut berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan anak, baik yang bersifat fisik, psikis maupun social.
e.       Sebagai tempat Curah Hati
Keluarga diharapkan menjadi tempat yang nyaman bagi anak termasuk anak dengan kecacatan dalam mencurahkan perasaan hatinya atau mengatasi masalahnya tersebut.

2.      Fungsi keluarga
Dapat berjalan dengan baik, antara lain ditandai :
a.       Fungsi Reproduksi
Mencangkup kegiatan melanjutkan keturunan secara terencana, sehingga menunjang terciptanya kesinambungan dan kesejahteraan social keluarga.
b.      Fungsi Afeksi
Meliputi kegiatan untuk menumbuh kembangkan hubungan social dan kejiwaan kepada seluruh anggota keluarga termasuk anak dengan kecacatan yang diwarnai kasih sayang, ketentraman dan kedekatan.
c.       Fungsi Perlindungan
Menjaga dan menghindarkan anggota keluarga termasuk anak dengan kecacatan dari situasi atau tindakan yang dapat membahayakan atau menghambat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan secara wajar.
d.      Fungsi Pendidikan
Untuk meningkatkan kemampuan maupun sikap dan perilaku anggota keluarga termasuk anak dengan kecacatan guna mendukung proses penciptaan kehidupan dan penghidupan keluarga yang sejahtera.
e.       Fungsi Keagamaan
Kegiatan keluarga yang ditujukan untuk meningkatkan hubungan anggota keluarga termasuk anak dengan kecacatan dengan Tuhan Yang maha Esa, sehingga keluarga dapat menjadi wahana persemaian nilai-nilai keagamaan guna membangun jiwa anggota keluarga yang beriman dan bertaqwa.
C.    Reaksi Keluarga Terhadap Keberadaan Anak Dengan Kecacatan
Ketika orang tua dan atau pihak keluarga menangkap adanya suatu gejala dan kondisi anak dengan kecacatan yang dinilai tidak sesuai dengan harapan dan tuntunan tugas perkembangan atau tidak sesuai dengan prilaku anak seusianya, maka sikap awal yang biasanya berkembang pada orang tua dan keluarga adalah marah, bingung, kecewa dan merasa bersalah sehingga sering muncul penolakan dan reaksi-reaksi lain seperti berikut ini :
1.      Isolasi keluarga
Keluarga cenderung menyembunyikan anaknya yang mengalami kecacatan, dan menghindarkan anaknya tersebut dari pergaulan. Dengan demikian anak dengan kecacatan menjadi terkungkung, tidak bisa berkomunikasi secara baik dengan lingkungannya.
2.      Stigma keluarga
Keluarga sering mengalami kesulitan bicara dengan orang lain tentang anaknya, karena kecacatan sering dikaitkan dengan AIB keluarga. Kecacatan juga kerapkali dikaitkan dengan perasaan berdosa, rasa tidak layak,kekecewaan dan kemarahan. Kurangnya pengetahuan keluarga terhadap kecacatan juga menambah kebingungan dan perasaan tidak berdaya.
3.      Gangguan komunikasi dalam keluarga
Keberadaan anak dengan kecacatan dapat menimbulkan beban mental bagi keluarga. Hal ini dapat menimbulkan gangguan komunikasi dalam keluarga, seperti :
·         Cepat saling menyalahkan
·         Sulit mendengar
·         Penyimpangan makna
·         Irrasional dsb.nya.
4.      Keterlantaran  emosi
Orang tua gagal menyikapi (merespon) kebutuhan perkembangan emosi anak sesuai kecacatan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
a.       Kecacatan pada anak memerlukan penanganan secara khusus, sebab anak dengan kecacatan memiliki hak dalam keberlangsungan dalam hidup, tumbuh kembang, berpartisipasi dan mendapat perlindungan dari perlakuan yang tidak kondusif bagi keberadaan, perkembangan dan masa depannya sebagaimana yang diamanatkan Konvensi Hak Anak.
b.      Adapun penyebab kecacatan pada anak
·         Cacat bawaan
·         Cacat setelah lahir
c.       Jenis-jenis kecacatan pada anak
-          Cacat Fisik ;
·         Cacat Tubuh
·         Cacat Netra
·         Cacat Rungu / wicara
·         Cacat Wicara
·         Cacat Rungu wicara
-          Cacat Mental
Type Klinis :
·         Down Syndrom (mongoloid)
·         Kretin (cebol) karena gangguan hypothyroid.
·         Hydrochepalus (pembesaran kepala).
Menurut Gangguan Perkembangan ;
·         Autistic Disordes (gangguan perkembangan) yang kompleks akibat kerusakan sel-sel otak.
·         AD / HD (attention – deficit / hyperactivity disarders)/ gangguan perusakan perhatian dan hyperaktivitas)
·         Psikotik (derajat gangguan mental dan atau psikologis berat pada anak tidak terdeteksi dan tidak di terapi serta direhabilitasi secara dini.
-          Cacat Fisik dan Mental / Cacat Ganda
Yaitu anak yang mengalami jenis kecacatan fisik sekaligus cacat mental, misalnya anak cacat mental sekaligus mengalami gangguan kecacatan tubuh, cacat netra atau rungu wicara.
d.      Dengan melalui peran dan fungsi keluarga maka kebutuhan fisik, intelektual, social, emosional dan kebutuhan moral anak termasuk anak dengan kecacatan dapat terpenuhi dengan baik oleh keluarganya serta lingkungannya.
e.       sikap awal yang biasanya berkembang pada orang tua dan keluarga adalah marah, bingung, kecewa dan merasa bersalah sehingga sering muncul penolakan dan reaksi-reaksi lain seperti berikut ini :
·         Isolasi keluarga
·         Stigma keluarga
·         Gangguan komunikasi dalam keluarga
·         Keterlantaran  emosi

B.  Saran
Pedoman ini menjadi  salah satu acuan pelayanan bagi para keluarga anak dengan kecacatan, untuk meningkatkan kesejahteraan sosial anak dengan kecacatan dapat terbantu. Realisasi dari keinginan tersebut tentunya bertitik tolak pada kemampuan keluarga dan dukungan berbagai pihak agar para keluarga dapat berperan dan berfungsi secara maksimal dalam melakukan pelayanan dan Rehabilitasi Sosial bagi anak dengan kecacatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar